MAKALAH INTERAKSI OBAT “PROSPEK KLINIK INTERAKSI OBAT”
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dengan meningkatnya
kompleksitas obat-obat yang digunakan dalam pengobatan pada saat ini, dan
berkembangnya polifarmasi maka kemungkinan terjadinya interaksi obat makin
besar. Interaksi obat perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi respon tubuh
terhadap pengobatan (Quinn and Day, 1997). Interaksi obat didefinisikan sebagai
modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau
diberikan bersamaan, sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih
berubah (Fradgley, 2003).
Obat dapat
berinteraksi dengan obat lain maupun dengan makanan atau minuman yang
dikonsumsi oleh pasien. Hal ini dapat terjadi karena
dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seorang penderita mendapat obat lebih
dari satu macam obat, menggunakan obat ethical, obat bebas tertentu
selain yang diresepkan oleh dokter maupun mengkonsumsi makanan dan minuman
tertentu seperti alkohol, kafein. Perubahan efek obat akibat interaksi obat
dapat bersifat membahayakan dengan meningkatnya toksisitas obat atau
berkurangnya khasiat obat. Namun, interaksi dari beberapa obat juga dapat
bersifat menguntungkan seperti efek hipotensif diuretik bila dikombinasikan
dengan beta-bloker dalam pengobatan hipertensi (Fradgley, 2003).
Jankel &
Speedie (1990) mengemukakan kejadian interaksi obat pada pasien rawat inap
2,2 % hingga 30 %, dan berkisar 9,2 % - 70,3 % pada
pasien di masyarakat. Diantaranya terdapat 11 % pasien yang benar-benar
mengalami gejala akibat interaksi obat. Penelitian lain pada 691 pasien,
ditemukan 68 (9,8%) pasien masuk rumah sakit karena penggunaan obat dan 3 (0,4
%) pasien disebabkan oleh interaksi obat (Stanton et al., 1994). Suatu
survei mengenai insiden efek
samping penderita rawat inap yang menerima 0–5 macam obat
adalah 3,5 %, sedangkan yang mendapat 16–20 macam obat 54 %. Peningkatan
insidens efek samping yang jauh melebihi
peningkatan jumlah obat diperkirakan akibat terjadinya
interaksi obat (Setiawati, 1995).
Mekanisme interaksi
obat dapat dibagi menjadi interaksi yang melibatkan aspek farmakokinetika obat
dan interaksi yang mempengaruhi respons farmakodinamik obat. Interaksi
farmakikinetik dapat terjadi pada beberapa tahap, meliputi absorpsi, distribusi,
metabolisme, atau ekskresi. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi di mana
efek suatu obat diubah oleh obat lain pada tempat aksi (Fradgley, 2003).
Beberapa kejadian interaksi obat sebenarnya dapat diprediksi sebelumnya dengan
mengetahui efek farmakodinamik serta mekanisme farmakokinetika obat-obat
tersebut. Pengetahuan mengenai hal ini akan bermanfaat dalam melakukan upaya
pencegahan terhadap efek merugikan yang dapat ditimbulkan akibat interaksi obat
(Quinn and Day, 1997).
Perubahan efek obat
akibat interaksi obat sangat bervariasi diantara individu karena
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti dosis, kadar
obat dalam darah, rute pemberian obat,
metabolisme obat, durasi terapi dan karakteristik pasien
seperti umur, jenis kelamin, unsur genetik dan kondisi kesehatan pasien
(Fradgley, 2003). Tidak semua interaksi obat akan bermakna secara signifikan,
walaupun secara teoritis mungkin terjadi. Banyak interaksi obat yang
kemungkinan besar berbahaya terjadi hanya pada sejumlah kecil pasien. Namun demikian
seorang farmasis perlu selalu waspada terhadap kemungkinan timbulnya efek merugikan
akibat interaksi obat ini untuk mencegah timbulnya resiko morbiditas atau bahkan
mortalitas dalam pengobatan pasien.
BAB II
KAJIAN PUATAKA
A.1 Interaksi Obat
Interaksi obat merupakan salah satu drug related
problems (DRPs) yang dapat mempengaruhi outcome terapi
pasien. Interaksi obat adalah peristiwa di
mana aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan
bersamaan. Kemungkinan terjadinya peristiwa interksi harus selalu
dipertimbangkan dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara
bersamaan atau hampir bersamaan. Tidak semua interaksi obat membawa pengaruh
yang merugikan, beberapa interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek
pengobatan, misalnya saja peristiwa interaksi antara probenesid dengan
penisilin, di mana probenesid akan menghambat sekresi penisilin di tubuhi
ginjal, sehingga akan memperlambat ekskresi penisilin dan mempertahankan
penisilin lebih lama dalam tubuh. Interaksi dapat membawa dampak yang merugikan
kalau terjadinya interaksi tersebut sampai tidak dikenali sehingga tidak dapat
dilakukan upaya-upaya optimalisasi. Secara ringkas dampak negatif dari
interaksi ini kemungkinan akan timbul sebagai,
- Terjadinya efek samping,
- Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.
Angka kejadian (incidence) dari interaksi obat tidak terlalu jarang dalam klinik. Menurut laporan diperkirakan + 7% dari kejadian efek samping obat disebabkan karena peristiwa interaksi obat, dan kurang lebih 1/3 dari pasien pasien yang meninggal karena efek samping obat (+ 4% dari kematian di rumah sakit ) dikarenakan oleh interaksi obat. Peristiwa interaksi ini menjadi pokok yang penting untuk selalu diperhatikan dengan melihat kebiasaan peresapan polifarmasi yang ada dalam praktek. Sebagai contoh, setiap pasien yang datang ke Puskesmas rata-rata akan medapat obat + 4 jenis pada saat yang bersamaan. Walaupun secara teoritik atau eksperimental kemungkinan terjadinya interaksi sangat beraneka-ragam tetapi tidak semua interaksi tersebut bermakna atau penting dalam klinik. Perubahan ini hanya menyangkut interaksi yang penting secara klinik. Kepentingan klinik ini secara sekali lagi dilihat dari dampak yang terjadi apakah mempengaruhi terjadinya efek toksis ataukah menyebabkan kegagalan tercapainya efek terapik.
- Terjadinya efek samping,
- Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.
Angka kejadian (incidence) dari interaksi obat tidak terlalu jarang dalam klinik. Menurut laporan diperkirakan + 7% dari kejadian efek samping obat disebabkan karena peristiwa interaksi obat, dan kurang lebih 1/3 dari pasien pasien yang meninggal karena efek samping obat (+ 4% dari kematian di rumah sakit ) dikarenakan oleh interaksi obat. Peristiwa interaksi ini menjadi pokok yang penting untuk selalu diperhatikan dengan melihat kebiasaan peresapan polifarmasi yang ada dalam praktek. Sebagai contoh, setiap pasien yang datang ke Puskesmas rata-rata akan medapat obat + 4 jenis pada saat yang bersamaan. Walaupun secara teoritik atau eksperimental kemungkinan terjadinya interaksi sangat beraneka-ragam tetapi tidak semua interaksi tersebut bermakna atau penting dalam klinik. Perubahan ini hanya menyangkut interaksi yang penting secara klinik. Kepentingan klinik ini secara sekali lagi dilihat dari dampak yang terjadi apakah mempengaruhi terjadinya efek toksis ataukah menyebabkan kegagalan tercapainya efek terapik.
A.2. Pembagian dan Mekanisme Interaksi
Interaksi obat berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 3 golongan besar,
1. Interaksi farmasetik,
2. Interaksi famakokinetik,
3. Interaksi farmakodinamik.
Interaksi obat berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 3 golongan besar,
1. Interaksi farmasetik,
2. Interaksi famakokinetik,
3. Interaksi farmakodinamik.
BAB III
PEMBAHASAN
1. Interaksi farmasetik
Interaksi ini merupakan interaksi fisiko-kimiawi di mana terjadi reaksi fisiko-kimiawi antara obat-obat sehingga mengubah (menghilangkan) aktifitas farmakologik obat. Yang sering terjadi misalnya reaksi antara obat-obat yang dicampur dalam cairan secara bersamaan, misalya dalam infus atau suntikan . Campuran penisilin (atau antibiotika beta-laktam yang lain) dengan aminoglikosida dalam satu larutan tidak dianjurkan. Walaupun obat-obat ini pemakaian kliniknya sering bersamaan, jangan dicampur dalam satu suntikan.
Beberapa tindakan hati-hati
(precaution) untuk menghindari interaksi farmasetik ini mencakup,
· Jangan memberikan suntikan campuran obat kecuali kalau yakin betul bahwa tidak ada interaksi antar masing-masingobat.
· Dianjurkan sedapat mungkin juga menghindari pemberian obat bersama-sama lewat infus.
· Selalu perhatikan petunjuk pemberian obat dari pembuatnya (manufacturer leaflet), untuk melihat peringatanperingatan pada pencampuran dan cara pemberian obat (terutama untuk obat-obat parenteral misalnya injeksiinfus dan lain-lain)
· Jangan memberikan suntikan campuran obat kecuali kalau yakin betul bahwa tidak ada interaksi antar masing-masingobat.
· Dianjurkan sedapat mungkin juga menghindari pemberian obat bersama-sama lewat infus.
· Selalu perhatikan petunjuk pemberian obat dari pembuatnya (manufacturer leaflet), untuk melihat peringatanperingatan pada pencampuran dan cara pemberian obat (terutama untuk obat-obat parenteral misalnya injeksiinfus dan lain-lain)
· Sebelum memakai larutan
untuk pemberian infus, intravenosa atau yang lain, perhatikan bahwa tidak ada
perubahan warna, kekeruhan, presipitasi dan lain-lain dari larutan.
· Siapkan larutan hanya kalau diperlukan saja. Jangan menimbun terlalu lama larutan yang sudah dicampur,
kecuali untuk obat-obat yang memang sudah tersedia dalam bentuk larutan seperti metronidazol , lidakoin dan
lain-lain.
· Botol ifus harus selalu diberi label tentang jenis larutannya, obat-obat yang sudah dimasukkan, termasuk dosis dan dan waktunya.
· Jika harus memberi per infus dua macam obat, berikan lewat 2 jalur infus, kecuali kalau yakin tidak ada interaksi. Jangan ragu-ragu konsul apoteker rumah sakit.
perubahan warna, kekeruhan, presipitasi dan lain-lain dari larutan.
· Siapkan larutan hanya kalau diperlukan saja. Jangan menimbun terlalu lama larutan yang sudah dicampur,
kecuali untuk obat-obat yang memang sudah tersedia dalam bentuk larutan seperti metronidazol , lidakoin dan
lain-lain.
· Botol ifus harus selalu diberi label tentang jenis larutannya, obat-obat yang sudah dimasukkan, termasuk dosis dan dan waktunya.
· Jika harus memberi per infus dua macam obat, berikan lewat 2 jalur infus, kecuali kalau yakin tidak ada interaksi. Jangan ragu-ragu konsul apoteker rumah sakit.
2. Interaksi farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik yaitu absorpsi, distribusi,metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan atau menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat di ekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainya meskipun masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanmya perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda.
Cth: interaksi farmakokinetik oleh simetidin
tidak dimiliki oleh H2-bloker lainya; interaksi oleh terfenadin,
aztemizole tidak dimiliki oleh antihistamin non sedatif lainya.
v Interaksi yang terjadi pada proses absorpsi gastrointestinal
Mekanisme
interaksi yang melibatkan absorpsi gastrointestinal dapat terjadi melalui
beberapa cara:
1. Secara langsung sebelum absorpsi
2. Terjadi perubahan pH cairan
gastrointestinal
3. Penghambatan transport aktif
gastrointestinal
4. Adanya perubahan flora usus
5. Efek makanan.
Interaksi yang terjadi secara langsung
sebelum obat di absorpsi
Contohnya: interaksi antibiotika ( tetrasiklin,
fluorokuinolon) dengan besi (fe) dan antasida yang mengandung Al,Ca,Mg
terbentuk senyawa chelate yang tidak larut sehingga obat antibiotika tidak
diabsorpsi. Obat-obat seperti digoksin, siklosporin, asam valproat menjadi
inaktif jika diberikan bersama adsorben (koalin, charcoal) atau anionic exhange
resins (kolestiramin, kolestipol)
Terjadinya perubahan pH cairan
gastrointestinal,
Misalnya;
peningkatan pH karena adanya antasida, penghambat H2 ataupun penghambat pompa-proton akan
menurunkan absorpsi basa-basa lemah (msl; ketokonazol,itrakonazol) dan akan
meniongkatkan absorpsi obat-obat asam
lemah (msl; glibenklamid, glipizid, tolbutamid), peningkatan pH cairan
gastrointestinal akan menurunkan absorpsi antibiotika golongan selafosforin seperti
sefuroksim aksetil dan sefpodoksim proksetil.
Mekanisme interaksi melalui
penghambatan transport aktif gastrointestinal,
Misalnya
grapefruit juice, yakni suatu inhibitor protein tranporter uplake pump mdi
saluran cerna, akan menurunkan bioavailabilitas beta-bloker dan beberapa
antihistamin (misl; fexofenadin) jika diberikan bersama-sama. Pemberian
digoksin bersama inhibitor transforter
efflux pump p-glikoprotein(ketokonazol, amiodarone, quinidin) akan meningkatkan
kadar plasma digoksin sebesar 60-80% dan menyebabkan menurunya ekskresi lewat
empedu, dan menurunkan ekskresinya oleh sel-sel tubulus ginjal proksimal.
Adanya perubahan flora usus,
Misalnya akibat
penggunaan antibiotika yang luas yanmg mensuspresi flora usus dapat menyebabkan
menurunya konversi obat menjadi komponen akti. Efek makanan terhadap absorbsi
terlihat misalnya pada penurunan absorbsi penisilin, rifampisin, INH, atau
peningkatan absorpsi HCT, fenitoin
nitrofurantoin, halofantrin, albendazol, mebendazol karena pengaruh
adanya makanan,makanan juga dapat menurunkan metabolisme.
v Interaksi yang terjadi pada proses ekskresi obat
Mekanisme interaksi obat dapat terjadi
pada proses ekskresi melalui empedu dan pada sirkulasi enterohepatik, sekresi
rubuli ginjal, dan karena terjadinya perubahan pH urin. Gangguan dalam ekskresi
melalui empedu terjadi akibat kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk
sistem transport yang sama, contohnya
kuinidin menurunkan ekskresi empedu probenesid menurunkan ekskresi
empedu rifampisin. Obat-obat yang menghambat p-glikoprotein di intestin akan
meningkatkan bioavailabilitas substrat p-glikoprotein di ginjal dapat
menurunkan ekskresi ginjal substrat. Contoh itrakonazol, suatu inhibitor
P-glikoprotein di ginjal akan menurunkan klirens ginjal digoksin (substrat
p-glikoprotein) jika diberikan bersama-sama sehingga kadar plasma dengan
digoksin akan meningkatkan.
Sirkulasi enterohepatik dapat
diputuskan atau diganggu dengan mengikat obat yang dibebaskan atau dengan mensupresi flora usus yang
menghidrolisis konjugat obat , sehingga obat tidak dapat direabsorbsi. Contoh
colestiramin suatu binding agents, akan mengikan parent drug (misalnya
warfarin,digoksin sehingga reabsorbsinya terhambat dan klirens meningkat.Antibiotik
berspektrum luas (misalnya rifampisin, neomisin) yang mensupresi flora usus
dapat mengganggu sirkulasi enterohepatik metabolit konjugat obat (misalnya
kontrasepsi oral/hormonal) sehingga konjugat tidak dapat di hidrolisis dan
reabsorpsinya terhambat dan berakibat efek kontra sepsi menurun.
3.Interaksi farmakodinamik
Obat-obat yang menghambat p-glikoprotein di intestin akan meningkatkan bioavailabilitas substrat p-glikoprotein di ginjal dapat menurunkan ekskresi ginjal substrat. Contoh itrakonazol, suatu inhibitor P-glikoprotein di ginjal akan menurunkan klirens ginjal digoksin (substrat p-glikoprotein) jika diberikan bersama-sama sehingga kadar plasma dengan digoksin akan meningkatkan.
Sirkulasi enterohepatik dapat
diputuskan atau diganggu dengan mengikat obat yang dibebaskan atau dengan mensupresi flora usus yang
menghidrolisis konjugat obat , sehingga obat tidak dapat direabsorbsi. Contoh
colestiramin suatu binding agents, akan mengikan parent drug (misalnya
warfarin,digoksin sehingga reabsorbsinya terhambat dan klirens meningkat.
penggunaan diuretik kuat (misal
furosemid) yang menyebabkan perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit
seperti hipokalemia,dapat meningkatkan toksisitas digitalis jika diberikan
bersama sama. Pemberian furosemid bersama relaksan otot (misal, d-tubokurarin)
menyebabakan paralisis berkepanjangan. Sebaliknya penggunaan diuretik hemat
kalium
(
spironolakton, amilorid) bersama dengan penghambat ACE (katopril) menyebabkan
hiperkalemia. Kombinasi anti hipertensi dengan obat-obat anti inflamasi
non-steroid (NSAID) yang menyebabkan retensi garam dan air terutama pada
penggunaan jangka lama dapat menurunkan efek antihipertensi.
v Implikasi klinis interaksi obat
Interaksi obat sering dianggap sebagai sumber terjadinya
efek samping obat ( adverse drug reactions ) yakni jika metabolisme suatu obat
indeks terganggu akibat adanya obat lain (precipitant) dan menyebabkan
peningkatan kadar plasma obat indeks sehingga terjadi toksistas. Selain itu
interaksi antar obat dapat menurunkan efikasi obat. Interkasi obat demikian
tergolong sebagai interkasi obat “ yang tidak dikehendaki” atau Adverse drug
intteractions (ADIs). Meskipun demikian, beberapa interkasi obat tidak selalu
harus dihindari karena tidak selamanya serius untuk mencederai pasien.
Interaksi obat atau bermakna klinis
Contoh obat-obat yang
interaksinya bermakna klinis :
·
Obat yang rentang terapinya sempit Antiepilepsi, digoksin, lithium,
siklosporin, teofilin dan warfarin.
·
Obat yang memerlukan pengaturan dosis teliti Obat antidiabetes oral,
antihipertensi
·
Penginduksi enzim Asap rokok, barbiturat (contoh fenobarbital), fenitoin,
griseofulvin, karbamazepin, rifampisin
·
Penghambat enzim Amiodaron, diltiazem, eritromisin, fluoksetin, ketokonazol,
metrodinazol, natrium valproat, simetidin, ciprofloksasin., verapamil.
v Interaksi obat yang tidak dikehendaki
Interaksi obat
yang tidak dikehendaki (ADIs) mempunyai implikasi
klinis jika: (1) obat indeks mempunyai batas keamanan sempit; (2) mula
kerja (onset of actions) obat cepat, terjadi dalam waktu 24 jam; (3) dampak
ADIs berdampak serius atau berpotensi fatal dan mengancam kehidupan; (4) indeks
dan obat presipitan lazim digunakan dalam praktek klinik secaea bersamaan dalam
kombinasi.
Banyak faktor
berperan dalam terjadinya ADIs yang bermakna secara klinik, antara lain faktor
usia, faktor penyakit, gemetik, dan penggunaan obat-obat preskripsi
bersama-sama beberapa obat-obat otc sekaligus. Usia lanjut lebih rentan
mengalami interaksi obat pada penderita diabetes melitus usia lanjut yang di
sertai menurunnya fungsi ginjal, pemberian penghambat ACE (misal; kapstoril)
bersama diuretik hemat kalium (misal: spironolakton, amilorid, triamteren)
menyebabkan terjadinya hiperkalemia yang mengancam kehidupan. Beberapa penyakit
seperti penyakit hati kronik dan kongesti hati menyebabkan penghambatan
metabolisme obat-obat tertentu yang di metabolisme di hati (misalnya simetidin)
sehingga toksisitasnya dapat meningkat. Pemberian relaksans otot bersama
aminoglikosida pada penderita miopati, hipoklemia, atau disfungsi ginjal,
dapat menyebabkan otot meningkat dan
kelemahan otot meningkat
Polimorfisme
adalah salah satu faktor genetik yang berperan dalam interaksi obat. Pemberian
fenitoin bersama INH pada kelompok polimorfisme asetilator lambat dapat
menyebabkan toksisitas fenitoin meningkat. Obat-obat OTC seperti antasida,
NSAID dan rokok yang banyak digunakan secara luas dapat berinteraksi dengan
banyak sekali obat-obat lain. Ringkasan beberapa interaksi obat yang berpotensi
serius tergambar paada TABEL 2!
v
Interkasi
obat yang dikehendaki
Adakalanya
penambahan obat lain justru diperlukan untuk meningkatkan atau mempertahankan
kadar plasma obat-obat tertentu sehingga diperoleh efek terapik yang
diharapkan. Selain itu, penambahan obat lain diharapkan dapat mengantisipasi
atau mengantagonis efek obat yang berlebihan. Penambahan obat lain diharapkan
dapat mengantisipasi atau mengantagonis efek obat yang berlebihan. Penambahan
obat lain dalam bentuk kombinasi (tetap ataupun tidak tetap) kadang-kadang
disebut pharmacoenhancement, juga
sengaja dilakukan untuk mencegah perkembangan resistensi , meningkatkan
kepatuhan , dan menurunkan biaya terapi karena mengurangi regimen dosis obat
yang harus diberikan.
Tabel
1 adalh contoh contoh interaksi antar obat yang diharapkan menghasilkan efek
yang dikehendaki.
Kombinasi
suatu anti aritmia yang memiliki waktu paruh singkat misalnya prokainamid,
dengan simetidin dapat mengubah parameter farmakokinetik prokainemid. Simetidin
akan mempengaruhi waktu paruh prokainemid dan memperlambat eliminasinya. Dengan
demikian frekuensi pemberian dosis prokainemid sebagai anti aritmia dapat
dikurangi dari setiap 4-6 jam menjadi setiap 8 jam/hari, sehingga kepatuhan
dapat ditingkatkan.
Dalam
regimen pengobatan HIV, diperlukan kombinasi obat-obat penghambat protease
untuk terapi HIV dengan tujuan mengubah profil farmakokinetik obat-obat
tersebut. Misalnya, penghambat protease lopinavir jika diberikan tunggal
menunjukan bioavailabilitas rendah sehingga tidak dapat mencapai kadar plasma
yang memadai sebagai antivirus. Dengan mengombinasikan lopinavir dengan ritonavir
dosis rendah, maka bioavailabilitas lopinavir akan meningkat dan obat mampu
menunjukan efikasi sebagai antiviral. Ritonavie dosis rendah tidak memiliki
efek antiviral namun cukup adekuat untuk menghambat metabolisme lopinavir oleh
CYP3A4 di usus dan hati.
Kombinasi obat-obat anti
malaria dengan mula kerja cepat tetapi waktu paruhnya singkat (misal,
artemisinin) dengan obat anti malaria lain yang memiliki waktu paruh lebih
pamjamg akan meningkatkan efektivitas obat anti malaria tersebut dan mengurangi
relaps. Kombinasi obat-obat anti tuberkolosis diharapkan akan memperlambat
terjadinya resistens
Tabel 1. Daftar Isozim
CYP, substrat, inhibitor dan indukator CYP
Isoenzim CYP
|
SUBSTRAT
|
INHIBITOR
|
INDUKATOR
|
CYP2D6
CYP2CI9
CYP3A4/5
CYP1A2
|
Amitriptilin
Β-bloker
Debrisokuin
Fenasetin
Haloperidol
Kodein
Metropolol
Metoklopramid
Prokainamid
Propranolol
Tramadol
Diazepam
Flunitrazepam
Heksobarbital
Imipramin
Klomipramin
Lansorplazol
Kontraseptik oral
Astemizol
Asetaminofen
Cisapride
Terfenadin
Triazolan
Midazolam
Felodipin
Karbamazepin
Sinva-/lovastatin
Teofilin
Kofein
Klozapin
Warfarin
|
Amiodarone
Celecoxib
Difenhidramin
Flufenazin
Halofantrin
Klorpromazin
Kuinidin
Metadon
Ranitidin
Ritonavir
Simetidin
Fluoksetin
Indomeazin
Ketokonazol
Omeprazol
Probenesid
Ritonavir
Simetidin
Ketokonazol
Itrakenazol
Eritomisin
Klaritomisin
Grapefruit juice
Ritonavir
Diltiazem
Siprofloksasin
fluvoksamin
|
Rifampisin
Karbamazepin
Fenobarbital
Prednison
Rifampisin
Dexametazon
Etanol
Rifampisin
INH
Rifampisin
Karbamazepin
Barbiturat
Asap rokok
Charcoal
grill-meat
|
Tabel 2. Ikhtisar Beberapa Interaksi Obat Serius
Interaksi
|
Efek potensial
|
Waktu mula
Munculnya efek
|
Keterangan dan
Rekomendasi
|
Warfarin dengan sipoflokasin,klaritomisin,
eritomisin, metronidazol, atau ko-trimoksazol
Warfarin dengan asetaminofen
Warfarin dengan asetosal
Warfarin dengan NSAID
Flurokuinolon dengan kation di/trivalen atau sucralfate
Karbamazepin dengan simetidin, eritromisin,
klraitromisin atau flukonazol
Fenobarbital dengan simetidin, eritromisin ,
klaritomisin atau flukonazol
Fenitoin dengan rifampisin
|
Efek warfarin meningkat
Perdarahan meningkat, INR meningkat
Perdarahan meningkat, INR meningkat
Perdarahan meningkat, INR meningkat
Absorpsi fluorokuinolon menurun
Kadar plasma karbamazepin meningkat
Kadar plasma fenobarbital meningkat
Kadar plasma
Fenitoin menurun
|
Umumnya dalam waktu 1 minggu
Setiap waktu
Setiap waktu
Setiap waktu
Setiap waktu
Umumnya dalam waktu 1 minggu
Umumnya dalam waktu 1 minggu
Umumnya dalam waktu 1 minggu
|
Pilih / ganti antibiotika alternative
Sedapat mungkin dosis asetaminofen terendah, monitor
INR
Batasi dosis asetosal 100mg/hari dan monitor INR
Sedapat mungkin hindari penggunaan obat-obat tsb
bersamaan. Jika diperlukan penggunaan bersama, gunakan inhibitor cox-2 dan
monitor INR
Beri jarak waktu pemberian 2-4
jam
Monitor kadar plasma karbamazepin
Kemakanan secara klinis masih
belum mapan. Monitor kadar plasma fenobarbital
Kemakanan secara klinis masih
belum mapan. Monitor kadar plasma
|
A.4. Dampak Klinik Interaksi Obat
Secara teoritis banyak sekali interaksi yang mungkin terjadi dengan mekanisme yang telah diuraikan di muka.
Namun demikian, tidak semuanya memberikan dampak klinik yang penting. Dampak klinik akan sangat tergantung pada ciri-ciri obat obyek (lihat II.1.), yakni:
- Profil hubungan dosis (kadar) dengan respons dari obat obyek. Untuk obat-obat dengan kurva kadar vs. respons yang curam (steep dose-response curve), di mana perubahan sedikit kadar atau jumlah obat akan berpengaruh besar terhadap efek obat, maka setiap perubahan kadar karena interaksi obat akan memberikan perubahan efek yang sangat berarti.
- Obat-obat dengan resiko toksik: terapetik yang rendah (low toxic:therapeutic ratio), atau sering dikenal juga
sebagai obat dengan lingkup terapi sempit.
Secara teoritis banyak sekali interaksi yang mungkin terjadi dengan mekanisme yang telah diuraikan di muka.
Namun demikian, tidak semuanya memberikan dampak klinik yang penting. Dampak klinik akan sangat tergantung pada ciri-ciri obat obyek (lihat II.1.), yakni:
- Profil hubungan dosis (kadar) dengan respons dari obat obyek. Untuk obat-obat dengan kurva kadar vs. respons yang curam (steep dose-response curve), di mana perubahan sedikit kadar atau jumlah obat akan berpengaruh besar terhadap efek obat, maka setiap perubahan kadar karena interaksi obat akan memberikan perubahan efek yang sangat berarti.
- Obat-obat dengan resiko toksik: terapetik yang rendah (low toxic:therapeutic ratio), atau sering dikenal juga
sebagai obat dengan lingkup terapi sempit.
Di samping kedua hal di atas, makna klinik interaksi obat juga akan sangat tergantung kepada jenis dari efek yang terjadi, terutama untuk interaksi farmakodinamik, yakni apabila efek obat obyek yang mengalami perubahan tersebut merupakan efek farmakologik utama/penting terhadap timbulnya efek terapetik maupun efek toksik dari obat. Misalnya perubahan sedikit saja dari efek antikoagulasi, bisa terjadi perdarahan atau kegagalan antikoagulasi.
Secara ringkas, makna klinik yang bisa terjadi ada 2 macam, yakni:
- Meningkatnya efek toksik baik disertai dengan meningkatnya kadar obat obyek atau tidak.
- Kegagalan efek terapetik.
Metodologi
Bahan
Bahan dan sumber data diperoleh dari kartu rekam medis pasien dan resep
rawat jalan.
Majalah Farmasi Indonesia, 17(4), 2006 179
Prosedur penelitian
Jenis penelitian adalah deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara
retrospektif. Penelitian interaksi obat pada pasien rawat inap dilakukan
melalui pengambilan 90 sampel (α = 95 % dan d=10 %) kartu rekam medis pasien
geriatrik di SMF Penyakit Dalam antara bulan Juni hingga September 2003.
Sedangkan untuk rawat jalan diambil 120 sampel (α = 95% dan d = 10 %) resep
pada Pelayanan Obat Haspita Farma antara bulan Juli
hingga Desember 2003 (Lemeshow et..al.).
Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling (acak
sederhana) . Data yang diperlukan dicatat pada lembar pengumpul data, meliputi
: nama obat, dosis, aturan pakai , cara pemberian, dan lama pemberian.
Analisis
Evaluasi interaksi obat dilakukan secara teoritik berdasarkan studi
literatur. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif. Ditentukan
persentase terjadinya interaksi obat-obat dan obat-makanan pada rawat inap
maupun rawat jalan. Persentase makanisme interaksi obat baik yang mengikuti
mekanisme interaksi farmakokinetik maupun farmakodinamik serta menentukan jenisjenis
obat yang sering berinteraksi.
Dari hasil penelitian diperoleh interaksi obat terjadi pada 59% kasus
pasien rawat inap dan 69 % resep rawat jalan. Pada pasien rawat inap ditemukan
125 kejadian interaksi obat
Gambar 1.
Frekuensi interaksi obat-obat dan obat-makanan pada
pasien rawat jalan dan rawat
inap
Gambar 2.
Persentase pola mekanisme interaksi obat pasien rawat
inap dan pasien rawat jalan
terdiri dari 48 jenis interaksi obat-obat dan 77 interaksi obat-makanan,
sedangkan pada pasien
rawat jalan ditemukan 128 kejadian interaksi obat meliputi 47 kasus
interaksi obat-obat dan 81 kasus interaksi obat-makanan (Gambar 1). Kejadian
interaksi obat yang cukup tinggi
diatas 50 % pada hasil penelitian perlu mendapat perhatian farmasis. Apabila
mengacu pada tujuan utama pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care)
untuk meminimalkan resiko pada pasien, maka memeriksa adanya interaksi obat
pada pengobatan pasien merupakan salah
satu tugas utama farmasis. Jumlah kejadian interaksi obat pada pasien rawat
inap geriatri cukup tinggi (125 kejadian). Tingginya angka kejadian interaksi obat
ini berkaitan dengan banyaknya obat yang dikonsumsi pasien akibat beragam
penyakit yang muncul pada usia geriatri.
Mekanisme interaksi obat dapat dibagi menjadi interaksi
farmakokinetika dan interaksi
farmakodinamik. Beberapa jenis obat belum diketahui mekanisme interaksinya
secara tepat
(unknown). Pada pasien rawat inap pola mekanisme interaksi obat
farmakokinetik 36 %, farmakodinamik 16 % dan unknown 48 %. Sedangkan
pada rawat jalan interaksi farmakokinetik 72 %, famakodinamik 19% dan unknown
9.%
(Gambar 2). Jenis obat yang mengalami interaksi obat baik pada rawat jalan dan
rawat inap pada Tabel I dan Tabel II. Sebagian besar interaksi obat ini
bersifat merugikan dan hanya sebagian kecil saja yang bersifat menguntungkan
yaitu pada interaksi obat-makanan obat-obat diazepam, propanolol yang
menyebabkan peningkatan absoprsi obat.
Dampak interaksi obat yang bersifat merugikan dalam
penelitian ini : berkurangnya bioavailabilitas suatu obat akibat gangguan
absorpsi (ciprofloksacin-makanan, antasida-kaptopril), peningkatan toksisitas
obat (lasix-digoksin, ciprofloksacin-doxorubicin), timbulnya efek nefrotoksik
(lasix-ceftriakson), bersifat antagonis terhadap efek obat lain ( asetosal/AINS
melawan efek antihipertensi kaptopril) (Stockley, 1999). Adapun jenis obat
yang mengalami interaksi obat-obat pada penderita rawat jalan dan rawat inap di
RS Dr. Sardjito Yogyakarta pada Tabel I dan Tabel II.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah relevansi atau signifikansi klinis
dari interaksi
obat yang terkait
dengan jenis dan besarnya
Tabel I.
Jenis obat yang mengalami interaksi obat-obat pada penderita rawat jalan di RS
Dr. Sardjito Yogyakarta.
NO
|
Jenis obat yang
berinteraksi
|
Mekanisme
interaksi
|
Tingkat
signifikasi
|
Jumlah
kasus
|
1
|
Isoniasid-Rifampisin
|
farmakokinetika
|
1
|
9
|
2
|
Fenobarbital-Fenitoin
|
farmakokinetika
|
4
|
6
|
3
|
Fenitoin-Asam folat
|
farmakokinetika
|
2
|
6
|
4
|
Teofilin -Salbutamol
|
farmakodinamika
|
5
|
5
|
5
|
Asam folat-Fenobarbital
|
farmakokinetika
|
Tidak diketahui
|
4
|
6
|
Diazepam-Parasetamol
|
farmakokinetika
|
Tidak diketahui
|
2
|
7
|
Digoksin-Spironolakton
|
farmakokinetika
|
2
|
2
|
8
|
Etambutol-Isoniasid
|
unknown
|
Tidak diketahui
|
2
|
9
|
Furosemid-Digoksin
|
farmakodinamika
|
1
|
2
|
10
|
Antasid-Ranitidin
|
Farmakokinetika
|
Tidak diketahui
|
1
|
11
|
Kaptopril-Spironolakton
|
Unknown
|
1
|
1
|
12
|
Diklofenak-Ranitidin
|
Farmakodinamik
|
Tidak diketahui
|
1
|
13
|
Fluoksetin-Amitriptilin
|
Farmakokinetika
|
2
|
1
|
14
|
Parasetamol-Fenobarbital
|
Farmakokinetika
|
4
|
1
|
15
|
Parasetamol -fenitoin
|
Farmakokinetika
|
2
|
1
|
16
|
Salbutamol-Prednison
|
Farmakodinamik
|
Tidak diketahui
|
1
|
17
|
Teofilin-Prednison
|
Farmakokinetika
|
4
|
1
|
18
|
Trihexifenidil-Klorpromazin
|
Unknown
|
2
|
1
|
Jumlah 47
(Stockley, 1999
Tabel II.
Jenis obat yang mengalami interaksi obat-obat pada penderita rawat inap
geriatri di RS Dr.Sardjito Yogyakarta.
NO
|
Jenis obat yang
berinteraksi
|
Mekanisme
interaksi
|
Tingkat
signifikasi
|
Jumlah
kasus
|
1
|
Kaptopril- Furosemid
|
Farmakodinamik
|
3
|
7
|
2
|
Kaptopril -Alupurinol
|
Unknown
|
4
|
1
|
3
|
Kaptopril -Asetosal
|
Farmakodinamik
|
2
|
5
|
4
|
Parasetamol-Metoklopramid
|
Farmakokinetik
|
Tidak diketahui
|
1
|
5
|
Doxorubicin-Siklofosfamid
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
6
|
Fenitoin-Metronidazol
|
Farmakokinetik
|
4
|
1
|
7
|
Simetidin-Metronidazol
|
Farmakokinetik
|
5
|
1
|
8
|
Ranitidin-Siklofosfamid
|
Farmakokinetik
|
Tidak diketahui
|
1
|
9
|
Prednison-Siklofosfamid
|
Farmakodinamik
|
5
|
1
|
10
|
Furosemid-Seftriakson
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
9
|
11
|
Ranitidin-Siprofloksasin
|
Farmakokinetik
|
Tidak diketahui
|
1
|
12
|
Insulin-Asetosal
|
Farmakokinetik
|
2
|
2
|
13
|
Digoksin -Alopurinol
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
14
|
Digoksin- Bisakodil
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
15
|
Digoksin- Furosemid
|
Farmakodinamik
|
1
|
1
|
16
|
Digoksin-asetosal
|
Farmakokinetik
|
Tidak diketahui
|
2
|
17
|
Ranitidin-Sukralfat
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
18
|
Diazepam-Fraksiparin
|
Farmakodinamik
|
Tidak diketahui
|
2
|
19
|
Asetosal-Fraksiparin
|
Farmakokinetik
|
2
|
2
|
20
|
Isosorbit Dinitrat-Metronidazol
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
21
|
Siprofloksasin- Metronidazol
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
22
|
Kaptopril-Antasida
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
1
|
23
|
Ranitidin-Gibenklamid
|
Farmakokinetik
|
4
|
1
|
24
|
Siprofloksasin-Doxorubicin
|
Unknown
|
4
|
1
|
25
|
Furosemid-Ketoprofen
|
Unknown
|
Tidak diketahui
|
11
|
jumlah
|
48
|
Signifikasi klinis terbagi atas lima kategori
tingkat signifikasi 1 hingga 5. Tingkat Sigifikansi pertama berarti interaksi
obat menyebabkan efek yang berat atau mengancam jiwa (severe or life-
threatening), efek ini didukung oleh beberapa data yang bersifat suspected,
established or probable in well . Tingkat signifikasi kelima merupakan
jenis interaksi yang menghasilkan efek yang ringan, dengan tingkat kejadian
yang rendah serta belum ada data yang cukup (no good evidence of an altered
clinical). Dengan mengetahui signifikasi interaksi obat dapat ditentukan
prioritas dalam hal monitoring pasien (Tatro, 2001).
Dengan mengetahui mekanisme
interaksi obat, farmasis dapat menentukan langkah yang tepat dalam pengatasan
masalah tersebut. Farmasis dapat menentukan apakah suatu jenis interaksi obat
dapat diatasi sendiri, ataukah memerlukan diskusi dengan klinisi/dokter.
Langkah
pertama dalam penatalaksanaan
interaksi
obat adalah waspada terhadap pasien yang memperoleh obat-obat yang mungkin
dapat berinteraksi dengan obat lain terutama apabila diketahui interaksi obat
menunjukkan signifikansi level pertama seperti interaksi digoksin-furosemid,
isoniasid–rifampicin,
kaptopril-spironolakton.
Beberapa alternatif penatalaksanaan interaksi obat adalah menghindari
kombinasi
obat dengan
memilih obat pengganti yang tidak berinteraksi, penyesauaian dosis obat,
pemantauan pasien atau meneruskan pengobatan seperti sebelumnya jika kombinasi
obat yang
berinteraksi
tersebut merupakan pengobatan yang optimal atau bila interaksi tersebut tidak
bermakna
secara klinis (Fradgley, 2003). Jumlah kejadian interaksi obat-makanan dalam
penelitian ini cukup besar. Contoh obat yang berinteraksi dengan makanan pada
pasien
rawat inap adalah:
aspirin, azitromicin. ciprofloksasin, simetidin, diazepam, digoksin,
furosemid,
kaptopril, propanalol dan paracetamol.
Sedangkan obat-obat yang berinteraksi dengan makanan pada
pasien rawat jalan adalah: karbamazepin, diazepam, erythromisin, fenitoin, spironolakton
, parasetamol, ampisilin, amoksisilin, kaptopril, sefalosporin, klorpromazin, digoksin,
furosemid, isoniazid, piroksikam, rifampisin, teofilin, sikloporin, hydralazin,
dan siprofloksasin. Makanan dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang
diabsorpsi setelah pemberian obat secara peroral.
Efek yang ditimbulkan bervariasi tergantung dari jenis
makanan, obat dan formulasi obat. Beberapa absorpsi obat dapat meningkat dengan
adanya makanan, seperti: diazepam, propanolol, dan siklosporin. Sedangkan obat
lain absorpsi obat dapat berkurang atau delay dengan adanya makanan. Pengetahuan
tentang efek obat pada makanan dalam klinik diperlukan, agar para tenaga kesehatan
dapat memberikan informasi kepada pasien kapan obat harus diminum apakah harus bersama
makanan atau tidak (McLachlan and Ramzan, 2006).
Hasil penelitian menunjukkan jenis obat yang sering
berinteraksi dengan obat lain pada
pasien rawat inap pasien geriatri adalahnfurosemid, kaptopril, aspirin, dan
seftriakson.
Sedangkan pada rawat jalan ditemukan obat yang sering
berinteraksi adalah fenitoin,
phenobarbital, isoniasid, dan rifampicin.
Pengetahuan mengenai jenis obat yang sering berinteraksi
dapat mempermudah dalam mengidentifikasi adanya interaksi obat pada pengobatan
pasien. Tiap jenis pelayanan kesehatan akan mempunyai karakteristik interaksi
obat yang spesifik tergantung dari jenis penyakit dan jenis obat yang
digunakan.
Untuk menghindari kemungkinan interaksi obat farmasis dapat secara aktif memberikan
informasi kepada pasien seperti cara penggunaan obat yang secara tepat, jenis
makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Melalui pelayanan
informasi obat farmasis memegang peranan besar dalam mencegah timbulnya dampak
negatif interaksi obat yang tidak hanya mempengaruhi kemanfaatan dan kemanjuran
obat namun lebih jauh dapat mempengaruhi rasa aman serta meningkatkan biaya
yang harus dikeluarkan pasien.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi
obat terjadi pada 59% pasien rawat inap dan 69% pasien rawat jalan. Pada pasien
rawat inap ditemukan 125 kejadian interaksi (48 interaksi obat-obat dan 77 interaksi
obat-makanan) dengan pola interaksi obat farmakokinetik 36 %, famakodinamik 16 %
dan unknown 48 %. Jenis obat yang sering berinteraksi: furosemid, kaptopril,
aspirin, dan seftriakson. Sedangkan pada rawat jalan ditemukan 47 kasus
interaksi obat-obat dan 81 kasus interaksi obat-makanan dengan pola interaksi
obat farmakokinetik 72%, farmakodinamik 19% dan sisanya unknown. Obat
yang sering berinteraksi fenitoin, phenobarbital,isoniasid dan rifampicin.
Besarnya masalah interaksi obat, terutama yang dapat berakibat timbulnya
efek samping (adverse drug reaction) dapat meningkat secara bermakna pada
populasi masyarakat tertentu sejalan
dengan bertambah banyaknya jumlah obat yang dikonsumsi secara bersamaan setiap
hari. Populasi masyarakat yang beresiko tinggi terhadap terjadinya interaksi
obat yang tidak di kehendaki adalah kelompok usia lanjut, dan pasien yang
sedang menjalani prosedur bedah rumit. Meskipun cukup banyak efek samping obat
yang terdeteksi selama uji-uji klinik, namun untuk mengetahui profil keamanan
suatu obat seringkali baru di dapatkan setelah obat tersebut sudah digunakan
cukup lama dan secara luas di masyarakat, termasuk oleh populasi pasien yang
sebelumnya tidak terwakili dalam uji klinik obat tersebut. Diharapkan data data
tersebut diperoleh dari laporan pharmacovi-gilance dan post-marketing
surveillance.
Hanya interaksi secara
farmakodinamik yang dapat diprediksi, dan umumnya efek berlaku untuk segolongan
obat dari kelas terapi yang sama (class effect), sedangkan interaksi
farmakokinetik tidak dapat diramalkan atau diekstrapolasikan untuk obat dalam
klas terapi yang sama, disebabkan adanya perbedaan dalam sifat-sifat fisiko-kimia obat yang menyebabkan perbedaan
profil farmakokinetik.
Untuk mencegah atau mengurangi
terjadinya interaksi obat yang tidak dikehendaki dan mungkin dapat bersifat
fatal, beberapa hal berikut dapat dipertimbangkan.
1. Usahanya memberikan jumlah obat sesedikit mungkin pada tiap-tiap penderita
, termasuk pemberian obat-obat OTC, dan
obat-obat herbal
2. Dalam memberikan obat, perhatian utama pada penderita usia lanjut, pasien
dengan penyakit yang sangat berat, pasien dengan adanya disfungsi hati atau
ginjal
3. Sangat berhati=hati jika menggunakan obat-obat dengan batas keamanan sempit
(antikoagulandigitalis,antidsiabetik,antiaritmia, antikonvulsan,antipisikotik,
antidepresan,imunosupresan,sitostatika), dan obat-obat inhibitor kuat CYP
(ketokanazol,itrakonazol,eritromisin,klaritromisin)
4. Melakukan monitoring terhadap kejadian interaksi (misal, terhadap tanda,
gejala, uji laboratorik) sehingga dapat cepat terdeteksi dan diambil tindakan
yang memadai, seperti menyesuaikan dosis menghentikan salah satu semua obat
yang digunakan
5. Minum obat dengan air tawar tidak dengan sari buah/jus,teh,susu
DAFTAR PUSTAKA
Stockley
I 1981. Drug Interactions and Their Mechanisms, 3rd reprint. Cambridge
University Press, Cambridge.
Grahame-Smith DG & Aronson JK 1985. Oxford Textbook
of Clinical Pharmacology and Drug Therapy. Oxford University Press, Oxford
Fradgley
S, 2003, Interaksi obat , dalam Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy) Menuju
Pengobatan Rasionaldan Penghargaan Pilihan Pasien (Aslam M, Tan CK,
Prayitno A, Ed), PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta, hal 119 –
134.
Jankel CA and Speedie SM, 1990, Detecting drug interactions: a review of
literature, Ann
pharmacother, Vol. 24, p. 982 - 989 .
Bauman,JL.the
role of pharmacokinetics, drug interactions and pharmacogenetics in the
acquired long QT syndrome. Eur Heart j.suppl.2001;3:93-100
Komentar
Posting Komentar